Selasa, 17 Agustus 2010

DKI Loloskan Dua Siswa ke Paskibraka

Paskibraka Nasional 2010 Warga DKI Jakarta masih patut berbangga. Pasalnya, dua siswa utusan DKI Jakarta masuk dalam seleksi nasional Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Dua siswa itu adalah M Tri Bintoro, siswa SMAN 4 Jakarta Pusat, serta Yuni Annisa, siswa SMAN 52 Jakarta Utara. Jelang upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka di Hari Kemerdekaan RI ini, kedua perwakilan DKI itu sudah ikut digembleng habis di Cibubur sejak sebelum puasa.

Selain kedua siswa yang lolos seleksi nasional, anggota Paskibraka DKI yang lolos tingkat provinsi sendiri ada sekitar 30 orang. Mereka terdiri dari sebanyak 15 orang Paskibraka putri dan 15 Paskibraka putra. Sementara bagi yang tidak lolos tingkat nasional, tetap akan menjalankan tugasnya mengibarkan bendera pusaka merah putih di masing-masing wilayah.

Untuk bisa lolos (ke tingkat) nasional memang tidak mudah. Secara fisik, anggota Paskibraka itu minimal memiliki tinggi 166 cm untuk putri dan 175 cm untuk putra. Selain itu, postur tubuh juga harus bagus. Faktor kediplinan, kemahiran baris berbaris, juga menjadi faktor penentu. Dua perwakilan DKI yang masuk Paskibraka nasional pun diharapkan bisa menjadi contoh bagi siswa se-DKI Jakarta dan anggota Paskibraka yang lain.

"Target kami, utusan DKI yang lolos nasional bisa masuk tim delapan. Yang putri bisa membawa baki, sementara putra sebagai pengibar," harap Instruktur Paskibraka DKI, Oky Saputra, Senin (16/8) kemarin.

"Meskipun tidak masuk seleksi nasional, lolos tingkat provinsi saja sudah cukup membanggakan. Paskibraka memberi banyak kontriobusi dalam menggembleng diri. Saya jadi tambah disiplin dan percaya diri," ujar Sarah Neville, siswi SMA Gonzaga Jakarta Selatan, rekan sesama Paskibraka Yuni dan Tri, saat ditemui di lokasi karantina komplek gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan.

Menurut Kabid Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Disorda) DKI Firmansyah pula, seluruh Paskibraka yang lolos seleksi baik tingkat provinsi apalagi nasional, merupakan siswa pilihan. Mereka telah digembleng sebelumnya setelah dinyatakan lolos seleksi tahap awal di masing-masing kecamatan. Penggemblengan diarahkan pada pembentukan karakter yang disiplin. Selain baris-berbaris, seluruh anggota Paskibraka dilatih sedemikian rupa dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, terkait kabar terjadinya dugaan pelecehan seksual yang dialami anggota Paskibraka saat penggemblengan di Cibubur pada awal Juli lalu, pihaknya membantah dilakukan oleh senior yang bertanggungjawab melatihnya. "Benar tidaknya, menunggu hasil penyelidikan. Tapi yang jelas, yang disangka itu senior angkatan 2005. Sementara yang bertanggungjawab menggembleng (adalah) lulusan 2007 dan 2008. Jadi kalau benar, itu oknum. Tidak bisa Paskibraka dicemarkan seperti itu," katanya.

Firmansyah menyebut, pihaknya juga masih tidak mengerti bentuk pelecahan seksual yang dituduhkan salah satu orangtua siswa itu. Sebab katanya, dalam definisi umum, disebut pelecehan jika pelaku dan korban berbeda jenis kelamin. Sementara dalam karantina, anggota Paskibraka putri dan putra dipisah. Jaraknya 100 meter, serta untuk bisa menemui satu sama lain juga harus melalui izin penjaga piket.

"Kalau memang terjadi pelecehan, mestinya yang menjadi korban kan mengundurkan diri atau menarik diri. Tapi ini kan tidak. Mereka baik-baik saja. Orangtua yang menuduh pelecehan juga tidak konsisten. Kalau memang merasa anaknya dizolimi, harusnya anaknya ditarik. Bukan didiamkan begitu," pungkasnya. (Blogger Garut)